Senin, 01 Februari 2016

Hidup Baru

MERASA BAHAGIA

oleh Bp. Paus Fransiskus

"Engkau mungkin memiliki kekurangan, gelisah dan kadang hidup tak tentram, namun jangan lupa hidupmu adalah sebuah proyek terbesar dalam dunia. Hanya engkau yang sanggup menghindari kegagalannya. Ada banyak yang membutuhkanmu, mengagumimu dan mencintaimu.

Aku ingin mengingatkanmu bahwa merasa bahagia bukan berarti memiliki langit tanpa badai, atau jalan tanpa kecelakaan, atau bekerja tanpa capek, ataupun hubungan tanpa kekecewaan.
Merasa Bahagia adalah mencari kekuatan untuk memaafkan, harapan dalam perjuangan, rasa aman disaat ketakutan, kasih di saat perselisihan.

Merasa bahagia bukan hanya mengenang senyum yang pernah ada, melainkan juga belajar dari kesedihan yang lalu.

Bukan hanya merayakan sebuah kejayaan, melainkan juga belajar dari kegagalan

Bukan hanya bergembira menerima tepukan tangan meriah, melainkan juga bergembira meskipun tak ternama.

Merasa bahagia adalah menyadari bahwa hidup adalah sangat berharga, diatas segala tantangan, prasangka dan keadaan kritis.

Merasa bahagia bukanlah sebuah takdir, melainkan sebuah kemenangan untuk mereka yang mampu menempuhnya dengan menjadi diri mereka sendiri.

Menjadi bahagia adalah dengan menolak menjadi korban dari masalah, melainkan menjadi tokoh dari sejarah.

Bukan hanya menyebrangi gurun diluar diri kita, tapi sebaliknya, mampu mencari mata air dalam serpihan batin kita.

Dengan mengucap syukur setiap pagi atas mukjizat dari kehidupan.

Menjadi bahagia bukan merasa takut atas perasaan kita. Melainkan bagaimana mengutarakan tentang diri kita. Untuk memiliki ketegaran ketika mendengar kata "tidak".

Untuk memiliki kenyamanan menerima kritik, meskipun tidak pantas.

Dengan mencium anak-anak, memanjakan orang tua, memiliki saat saat berkesan dengan teman-teman, walaupun mereka pernah menyakiti kita.

Merasa bahagia bermakna membiarkan
Anak yang bebas, bahagia dan lugu yang ada dalam diri kita hidup; memiliki kedewasaan berucap "saya salah", memiliki keberanian berucap "maafkan saya".

Memiliki perasaan untuk mengutarakan "Aku membutuhkan kamu" ; memiliki kemampuan berucap "Aku mencintaimu".

Dengan demikian hidupmu menjadi lahan yang penuh dengan kesempatan untuk menjadi bahagia.

Di musim semi-mu, jadilah kekasih dari keriangan. Di musim dingin-mu, jadilah sahabat dari kebijaksanaan.

Dan ketika engkau melakukan kesalahan, mulai lagi dari awal. Dengan demikian engkau akan sangat bersemangat dalam menjalani kehidupan.

Dan engkau akan mengerti bahwa kebahagiaan bukanlah berarti memiliki kehidupan yang sempurna, melainkan menggunakan airmata untuk memupuk toleransi, kegagalan untuk mengukir kedamaian, kesedihan untuk mengalasi kebahagiaan, kesulitan untuk membuka jendela pengetahuan.

Jangan menyerah...  Jangan menyerah atas orang orang yang engkau kasihi. Jangan menyerah untuk merasa bahagia karena kehidupan adalah sebuah pertunjukan yang menakjubkan.

Dan engkau adalah seorang manusia yang luar biasa.

Salam Kerahiman,

- Paus Fransiskus

Jumat, 30 Mei 2014

NOVENA PENTAKOSTA I

Jumat, 30 Mei 2014
 
BACAAN I : KIS. 18:9-18
MAZMUR : 47:2-3.4-5.6-7;R:8a
BACAAN INJIL : YOH 16:20-23a



Segala sesuatu diatas muka bumi ini ada saatnya. Ada saatnya untuk lahir, ada saatnya untuk mati. Ada saatnya untuk menangis, ada saatnya untuk tertawa. Hari ini Yesus bersabda, “Sungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan gembira. Kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.”

Yesus menyampaikan hal itu kepada para murid karena ia akan meninggalkan mereka untuk kembali kepada Bapa-Nya. Sesaat saja para murid akan berduka karena ditinggalkan, tetapi dukacita mereka akan diubah menjadi sukacita. Para murid akan bersukacita karena mereka akan bertemu lagi dengan Yesus. Dukacita yang mereka alami ganjarannya akan setimpal dengan sukacita yang akan mereka peroleh, dan tidak ada seorang pun yang akan dapat merampas kebahagiaan itu.

Dalam bacaan pertama Paulus bisa jadi mengalami dukacita ketika harus berhadapan dengan orang-orang Yahudi yang bangkit melawan dia dan menyeret dia ke depan pengadilan. Tetapi ternyata Tuhan senantiasa menyertai dia sehingga ia tetap mengalami sukacita. Paulus bersukacita karena dibebaskan dari terdakwaan di pengadilan, bahkan akhirnya malah Sostenes, kepala rumah ibadat, yang dihakimi dan dipukuli. Paulus bersukacita karena berkat pewartaannya jemaat di korintus bertambah banyak yang bertobat dan percaya.

Bagi kita juga ada saatnya mungkin mengalami kesedihan, dukacita, atau penderitaan namun, dukacita kita juga akan dibalas dengan sukacita yang setimpal kalau kita tetap setia kepada Tuhan.

Semoga dalam penderitaan aku tetap percaya dan setia kepada-Mu, Tuhan, sehingga penderitaanku akan berubah menjadi sukacita kekal.amin


(cr : https://www.facebook.com/antonius.jayanto)